Minggu, 03 Januari 2010

Mengenal Obyek Wisata Pesisir Jakarta Utara

http://www.kompas.comJAKARTA, KOMPAS.COM — MUMPUNG masih hangat dan menjelang liburan akhir tahun, layak saya ingatkan pada warga Jakarta yang bingung hendak menghabiskan waktu libur ke mana. Ada 12 jalur wisata pesisir di Jakarta Utara yang bisa dipilih untuk dinikmati. Setidaknya dari hasil kunjungan itu, Anda bisa memberikan masukan pada pemerintah setempat akan apa yang masih kurang dan masih harus ditingkatkan/diadakan.

Adalah Bambang Sugiyono, walikota Jakarta Utara, yang nekat mengemas dan meluncurkan 12 jalur wisata pesisir. “Kalau nunggu kami siap, kapan siapnya. Jalan aja dulu, sambil kami kerjakan. Kalau sudah jalan kan semua pihak mau enggak mau tergerak untuk mendukung. Memang, kami juga harus merangkul, memperkenalkan, menjelaskan ke warga bahwa kalau program ini jalan, mereka juga yang akan menikmati hasilnya,” papar Bambang beberapa waktu lalu. Intinya, ia ingin meningkatkan perekonomian Jakarta Utara melalui potensi wisata, khususnya wisata pusaka (heritage tourism), yang selama ini tak tergarap.

Lantas mana saja 12 jalur wisata pesisir itu? Taman Suaka Margasatwa Muara Angke, di mana pengunjung bisa melihat vegetasi mangrove, biawak, ular dan kera.

Burung langka yang hanya ada di Pulau Jawa juga diselamatkan di sini. Tempat seluas 15,4 Ha ini ditetapkan sebagai Cagar Alam dengan Keputusan Gubernur Hindia Belanda No 24 tanggal 18 Juni 1939. Status Cagar Alam kemudian diubah menjadi Suaka Margasatwa berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No 755/Kpts-II/98 dengan luas 25,02 Ha.

Sentra Perikanan Muara Angke, kini beken sebagai tempat penjualan ikan segar dan ikan bakar. Di sini terdapat pusat kegiatan Pengolahan Hasil Perikanan Tradisional (PHPT) dan permukiman nelayan. Muara Angke ini punya sejarah panjang, setidaknya sejak abad 16. Nama Angke diambil dari Tubagus Angke, panglima perang Kerajaan Banten.

Kawasan Sunda Kelapa, ada empat lokasi yang bisa didatangi. Tentu saja Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai cikal bakal kota Jakarta. Lokasi ini sangat ramai diserbu di pagi hari atau di sore hari karena kapal kayu yang berjejer di sana dipadu langit cerah menjadi latarbelakang yang indah untuk berfoto. Tak jauh dari sini, ada Museum Bahari yang di abad 17 merupakan gudang rempah. Kini gudang itu berisi koleksi kebaharian dan kenelayanan. Selain itu, tembok bagian depan museum ini tak lain adalah bagian dari tembok Kota Batavia sisi barat yang masih tersisa.

Sebelum masuk ke Museum Bahari, ada menara miring yang sejatinya adalah Menara Syahbandar, yaitu menara pemantau kapal yang keluar masuk Kota Batavia. Menara ini dibangun di abad 19, tepatnya 1839. Di seberang menara ini berdiri megah bekas galangan kapal VOC yang usianya jauh lebih tua dari Menara Syahbandar. Bangunan bekas galangan kapal itu dibangun tahun 1628 dan kini menjadi gedung Galangan VOC. Tempat ini pernah menjadi kafe dan restoran, namun karena akses ke lokasi ini yang tak kunjung dibenahi maka gedung ini kini lebih banyak hidup dari penyewaan tempat untuk pernikahan, pesta, kursus bahasa Mandarin dan kursus alat musik tradisional Tionghoa.

Dari Museum Bahari, masuk lebih ke dalam di antara perkampungan kumuh, ada kampung tua bersejarah, Kampung Luar Batang. Kampung ini didirikan oleh mujahid Islam yang hijrah dari Hadhramaut, Yaman Selatan, pada sekitar tahun 1716-1756. Ia meninggalkan masjid dan makam yang dianggap keramat. Di masa VOC tempat ini adalah lokasi pemeriksaan barang sebelum masuk ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Tujuan lainnya adalah Stasiun Tanjungpriuk yang dibangun pada 1914. Di sini ditemukan bunker yang diperkirakan menghubungkan antara stasiun dan pelabuhan Tanjungpriuk. Dari stasiun, ada kampung tua lainnya, Kampung Tugu. Di kampung inilah Keroncong Tugu berawal. Warga di sana punya nama unik, nama-nama Portugis. Pasalnya, kampung itu di abad 17 menjadi tempat budak dan tawanan VOC yang dimerdekakan, dan rata-rata mereka berkebangsaan Portugis.

Kampung Marunda, tak jauh dari Kampung Tugu, ada rumah panggung yang dipercaya sebagai rumah orang kaya Marunda yang dirampok Pitung, ada pula yang percaya di rumah itu Pitung pernah tinggal. Tak jauh dari rumah itu ada Masjid Al Alam yang didirikan Fatahillah setelah mengalahkan Portugis di Sunda Kelapa. Lelah menikmati kekayaan pusaka Jakarta Utara, ada tempat makan dan belanja di Kelapa Gading dan Mangga Dua. Taman Impian Jaya Acnol dan Bahtera Jaya Ancol juga merupakan bagian dari 12 wisata pesisir. Wisata religius dalam 12 wisata pesisir dipusatkan di Jakarta Islamic Centre, yang berdiri di atas lahan bekas lokalisasi Kramat Tunggak. WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

(Sumber KOMPAS.COM, 1 Desember 2009)

AKSARA SUNDA

Sejarah Awal

Setidaknya sejak Abad IV masyarakat Sunda telah lama mengenal aksara untuk menuliskan bahasa yang mereka gunakan. Namun demikian pada awal masa kolonial, masyarakat Sunda dipaksa oleh penguasa dan keadaan untuk meninggalkan penggunaan Aksara Sunda Kuna yang merupakan salah satu identitas budaya Sunda. Keadaan yang berlangsung hingga masa kemerdekaan ini menyebabkan punahnya Aksara Sunda Kuna dalam tradisi tulis masyarakat Sunda.

Pada akhir Abad XIX sampai pertengahan Abad XX, para peneliti berkebangsaan asing (misalnya K. F. Holle dan C. M. Pleyte) dan bumiputra (misalnya Atja dan E. S. Ekadjati) mulai meneliti keberadaan prasasti-prasasti dan naskah-naskah tua yang menggunakan Aksara Sunda Kuna. Berdasarkan atas penelitian-penelitian sebelumnya, pada akhir Abad XX mulai timbul kesadaran akan adanya sebuah Aksara Sunda yang merupakan identitas khas masyarakat Sunda. Oleh karena itu Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat menetapkan Perda No. 6 tahun 1996 tentang Pelestarian, Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra, dan Aksara Sunda yang kelak digantikan oleh Perda No. 5 tahun 2003 tentang Pemeliharaan Bahasa, Sastra, dan Aksara Daerah.

Pada tanggal 21 Oktober 1997 diadakan Lokakarya Aksara Sunda di Kampus UNPAD Jatinangor yang diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat dengan Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Kemudian hasil rumusan lokakarya tersebut dikaji oleh Tim Pengkajian Aksara Sunda. Dan akhirnya pada tanggal 16 Juni 1999 keluar Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 343/SK.614-Dis.PK/99 yang menetapkan bahwa hasil lokakarya serta pengkajian tim tersebut diputuskan sebagai Aksara Sunda Baku.

Saat ini Aksara Sunda Baku mulai diperkenalkan di kepada umum antara lain melalui beberapa acara kebudayaan daerah yang diadakan di Bandung. Selain itu, Aksara Sunda Baku juga digunakan pada papan nama Museum Sri Baduga, Kampus Yayasan Atikan Sunda dan Kantor Dinas Pariwisata Daerah Kota Bandung. Langkah lain juga diambil oleh Pemerintah Daerah Kota Tasikmalaya yang menggunakan Aksara Sunda Baku pada papan nama jalan-jalan utama di kota tersebut.

Namun demikian, setidaknya hingga akhir tahun 2007 Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Jawa Barat belum juga mewajibkan para siswa untuk mempelajari Aksara Sunda Baku sebagaimana para siswa tersebut diwajibkan untuk mempelajari Bahasa Sunda. Langkah memperkenalkan aksara daerah mungkin akan dapat lebih mencapai sasaran jika Aksara Sunda Baku dipelajari bersamaan dengan Bahasa Sunda. Dinas Pendidikan Nasional Propinsi Lampung dan Propinsi Jawa Tengah telah jauh-jauh hari menyadari hal ini dengan mewajibkan para siswa Sekolah Dasar yang mempelajari bahasa daerah untuk juga mempelajari aksara daerah.

Sunda Baku dan Sunda Kuna

Sebagaimana diungkapkan di atas, Aksara Sunda Baku merupakan hasil penyesuaian Aksara Sunda Kuna yang digunakan untuk menuliskan Bahasa Sunda kontemporer. Penyesuaian itu antara lain didasarkan atas pedoman sebagai berikut : bentuknya mengacu pada Aksara Sunda Kuna sehingga keasliannya dapat terjaga, bentuknya sederhana agar mudah dituliskan, sistem penulisannya berdasarkan pemisahan kata demi kata, dan ejaannya mengacu pada Bahasa Sunda mutakhir agar mudah dibaca. Dalam pelaksanaannya, penyesuaian tersebut meliputi penambahan huruf (misalnya huruf va dan fa), pengurangan huruf (misalnya huruf re pepet dan le pepet), dan perubahan bentuk huruf (misalnya huruf na dan ma).

Saat ini, aksara sunda bahkan bisa kita manfaatkan konversi dari latin ke aksara sunda, contohnya di website yang dibuat oleh Dian Tresna Nugraha ini. Klik http://sabilulungan.org/aksara/ untuk menuju TKP. O iya jangan lupa untuk menginstal font Sundanese Unicode agar bisa mengenali aksara sundanya.

Sumber: http://id.wikipedia.org dan http://sabilulungan.org/aksara/

Cimahi, Kota Wisata Sejarah Militer

Warta Kota/PradaningrumKOMPAS.COM — Cimahi, sebuah kota administratif dengan luas sekitar 4.000 hektar di wilayah Kabupaten Bandung Utara, seringkali terlupakan dalam sejarah. Sejarah kota ini tak banyak tercatat, padahal kota ini punya sejarah penting bukan hanya karena Cimahi dilalui jalur "Daendels" Anyer-Panarukan tapi juga bagi dunia militer di masa kolonial.

Pramoedya Ananta Toer menggambarkan kenangan atas kota-kota, khususnya kota di tanah Priangan, yang dilalui Jalan Raya Pos begini, "Barang tiga kilometer ke tenggara, Jalan Raya Pos sampai ke Cimahi. Sebelum 1913, tempat ini bernama Cikolokot (tapi di catatan sejarah lain tertulis Cilokotot –Red).

Perubahan nama terjadi setelah semasa pemerintahan Gubernur Jenderal van Heutsz, Bandung ditunjuk jadi tempat pemusatan tentara Hindia Belanda dan di Cikolokot dibangun tangsi besar KNIL dengan RS militer yang juga besar. Sejak itu Cimahi jadi kota militer. Tak ada suatu kenangan padaku tentang Cimahi tapi sedikit tentang Padalarang."

Demikian sedikit kenangan Pramoedya atas Cimahi. Catatan sejarah lainnya tertulis dalam situs resmi kota itu. Cimahi mulai dikenal pada tahun 1811 ketika Gubernur Jendral Herman Willem Daendels membuat jalan Anyer - Panarukan. Tuan Besar Guntur (Daendels) kemudian membuat pos penjagaan (loji) di lokasi yang kini menjadi Alun-alun Cimahi.

Antara tahun 1874 - 1893, Belanda membangun jalur kereta api Bandung-Cianjur dan bersamaan dengan itu Stasiun Cimahi pun ikut berdiri. Stasiun ini masih ada di sana. Selain membangun jalan kereta api itu, pada 1886, pusat pendidikan militer bersama fasilitas lain seperti rumah sakit, rumah tahanan militer juga disiapkan.

Rumah Sakit Dustira, dari tahun 1887, kini masih berdiri gagah, demikian pula rumah tahanan militer Poncol yang di dinding bagian atas pintu masuk tertulis angka 1886. Kini dengan tambahan 'kawasan terlarang". Saat saya, di bawah rintik hujan akhir pekan lalu, meminta izin mengambil gambar bagian muka, izin tak diberikan, "Harus ada izin dari pusat (Jakarta). Kita sudah sering kedatangan orang Belanda minta izin untuk ambil gambar, tetap enggak bisa," tandas soldadu yang menjaga rumah tahanan itu.

Sayang sekali. Kejadian seperti itu tak hanya terjadi di Cimahi. Di semua daerah di mana bangunan bersejarah dikuasai militer, maka warga tersendat mendapatkan sejarah dan keberadaan kota mereka sendiri. Segala aturan, tata cara, prosedur birokrasi nan panjang harus dilalui hanya untuk mengambil gambar sebuah gedung bersejarah yang bukan hanya milik militer tapi milik seluruh kota, bahkan bangsa ini.

Di saat kota-kota bersejarah, kota-kota di Indonesia sadar akan kekayaan pusaka (heritage) mereka, kesulitan bahkan hambatan akan datang dari urusan kepemilikan bangunan. Alhasil, pemeliharaan termasuk pemugaran bangunan yang potensial jadi atraksi wisata sejarah kota terkait, sulit dipantau. Lihat saja bekas tembok kota Batavia sisi Timur beserta gudang rempah di sana. Perhatikan, dari waktu ke waktu semua terkikis makin habis tak berbekas.

Kembali ke Cimahi, menjelajah kota ini mata saya bagaikan enggan berkedip karena hampir di tiap sudut, bangunan tua, bangunan bersejarah berserakan. Termasuk Gereja St Ignatius, kerkhof (pemakaman) Leuwigajah di sini terbentang pula kuburan Belanda - Ereveld Leuwigajah).

Intinya, sebagai kota militer, Cimahi berpotensi besar menjual kemiliteran kota ini. Hanya saja, tentu, sebagai kota wisata, harus ada kompromi pada urusan keramahtamahan, hospitality dari seluruh pihak di Cimahi. WARTA KOTA Pradaningrum Mijarto

(Sumber KOMPAS.COM, 30 Desember 2009)

Sabtu, 02 Januari 2010

SEJARAH GITAR FENDER

Salah satu dari perusahaan pembuat gitar yang paling populer dan juga memberikan kontribusi yang sangat berpengaruh di dunia musik modern adalah gitar Fender. Dengan di populerkannya gitar elektronik berbadan padat, bass, dan amplifiers, Fender membantu band-band kecil untuk lebih terdengar di panggung yang lebih besar ketimbang menggunakan peralatan akustik. Dengan gitarnya yang revolusioner, Fender juga memberikan rasa lebih dalam dunia musik dan mempengaruhi banyak aliran musik termasuk rock, jazz, blues dan lain lain.

Leo Fender, yang merupakan penemu dari gitar fender, membuat gitar berbadan padat pertama kali pada tahun 1951 dan diberi nama “Broadcaster”. Yang di kemudian hari nama tersebut digantikan oleh “Telecaster or Tele” dan merupakan gitar berbadan padat gaya spanyol yang pertama kali di produksi secara masal.

Pencetak sejarah lain di sejarah gitar terjadi di tahun yang sama pada saat fender memperkenalkan “precision bass”. “Precision bass” berbeda dari gitar bass biasa pada waktunya karena “precision bass” memiliki fungsi yang portable, kamu dapat memainkannya seperti gitar dan juga dapat di amplifikasikan. “Double Bass atau Upright Bass” yang dahulu digunakan sangat sulit untuk di transportasikan dan seringkali sulit untuk didengar karena suaranya tenggelam oleh alat musik lain.

Pada tahun 1954, fender keluar dengan “Stratocaster atau Strat”. Fender mengadakan riset dengan bertanya kepada gitaris profesional dan staff gitar fender, kemudian bertanya “apa yang anda mau dari gitar?” sehingga dia dapat memperbaiki gitar fender “Telecaster”. Namun mereka berakhir dengan memproduksi gitar kelas atas yang berjalan berdampingan dengan “Tele”. Beberapa karakteristik utama dari “Strat” adalah adanya tambahan single coil pickup dan desain badan double cutaway yang memudahkan gitar tersebut dimainkan di nada-nada tinggi. Salah satu tambahan penting pada “Strat” adalah tremolo bridge, yang pada awalnya berfungsi sebagai alat untuk membelokan senar sehingga dapat mengimitasi suara pada pedal besi gitar.

Fender juga memperkenalkan banyak model lain di dekade selanjutnya termasuk Jaguar, Jazzmaster, dan Jazz Bass. Fender juga memproduksi Twin Reverb amplifier pada waktu itu.

Dikarenakan oleh kurangnya kesehatan Leo Fender, perusahaan gitar fender dijual kebada CBS di tahun 1965. Walaupun perusahaan gitar fender melanjutkan perkembangannya di pemilik yang baru di tahun tahun selanjutnya, perusahaan tersebut menyadari pentingnya managemen yang mengerti musik dan musisi. Hal ini yang menyebabkan perusahaan gitar fender mempekerjakan William Schultz di tahun 1981.

Pada tahun 1985, CBS memutuskan untuk menjual semua bisnis medianya termasuk fender. Sekelompok investor dan staff dari perusahaan gitar fender membeli perusahaan ini dan menempatkan Willian Schultz di posisi pemimpin. Dengan termasuknya orang yang memiliki passion dalam bidang gitar sebagai pemilik perusahaan, seperti staff dari perusahaan itu sendiri, perusahaan gitar fender menjadi semakin baik.

Tahun 1987 menandakan tahun dimana Fender Custom Shop buka untuk pertama kalinya yang berlokasi di Corona, California dimana mereka membuat gitar kustom untuk para profesional dan para antusias gitar. Custom Shop ini jelas merupakan langkah dari fender karena mereka selalu memiliki pengertian akan pentingnya memberikan tepat apa yang diinginkan oleh pelanggan.

Fender masih terus berpikir untuk hari ini dan seterusnya untuk memberikan gitar fender terbaik yang dapat mereka buat kepada para pelanggannya. Ini yang menjadikan alasan untuk perusahaan gitar fender merupakan salah satu dari gitar yang paling terkenal yang tercatat dalam sejarah. Beberapa dari tokoh pemain gitar yang mencintai gitar fender mereka adalah Buddy Guy, Eric Clapton, Eric Johnson, George Harrison, Jeff Beck, Jimi Hendrix, Jimmy Page, John 5, John Lennon, Keith Richards, Pete Townshend, Richie Kotzen, Stevie Ray Vaughn dan Yngwie Malmsteen.

gitar-fender

sumber : http://www.kataloggitar.com/gitar-fender/

KOPASSUS Peringkat ke-3 dunia

Saya nyari di internet eh ketemu berita membanggakan dari Kemiliteran indonesia.

kopasus ( pasukan baret merah , komando pasukan khusus ) pasukan terbaik ke 3 dunia versi discovery chanel military

beberapa bulan lalu thn 2008 TV discovery(military chanel) Ada acara tentang pasukan khusus terbaik di dunia di sebuah stasiun tv d discovery channel military. Penilaiaanya bukanlah berupa alat2 yg canggih
melainkan penilaiaanya di sesuaikan dengan kemampuan individunya dan inilah hasilnya: posisi pertama di duduki SAS (Inggris), lalu posisi kedua diduduki oleh IDF (ISRAEL), yg menarik ni juragan posisi ketiga diduduki amaKOPASUS (Indonesia)!!!! dan pembawa acaranya mengatakan klo amerika tuh g d pringkat pertama karena amerika sangat bergantung ama alat2 canggihnya bukan krn skill dr tentaranya, beda sama kopasus yg emang minim fasilitas dll tapi dia.

yg jelas kita hrs bangga terhadap bangsa kita ini, setidaknya ada 1lah yg bisa d banggakan oleh bangsa kita tercinta ini

mungkin ini salah satu sebab ausie takut ma indonesia kali ya

Cerita lengkapnya ada di buku Kopassusnya Ken Conboy. Nih garis besar ceritanya:

Kejadiannya sekitar pertengahan tahun 1980-an. Saat itu pangabnya LB Moerdani kalau tidak salah. Dia udah lama nerima laporan intel kalau OPM sering mendapat pasokan senjata yg diselundupkan dari PNG. Ketika dikonfirmasi ke otoritas PNG, mereka tidak tahu menahu mengenai hal tersebut. Akhirnya Benny memutuskan untuk mengambil langkah sendiri untuk mengidentifikasi siapa/negara mana yang bermain. Caranya? ya langsung masuk ke wilayah PNG tanpa permisi

Yang ketiban untuk melaksanakan tugas ini adalah Den 81 yang saat itu dipimpin oleh prabowo. Sasaran mereka adalah suatu lokasi di wilayah PNG, sekitar 50 km dari tapal batas perbatasan dengan Indonesia. Pasukan ini berangkat dari Jayapura naik heli, kemudian sampai di suatu tempat dan melanjutkan misi dengan perahu karet agar tidak terdeteksi otoritas PNG.

Perjalanan dengan perau karet menuju lokasi sasaran terhadang oleh besarnya ombak (dini hari) di perairan sebelah utara PNG. Seorang anggota Kopassus sampai terluka cukup parah untuk mempertahankan perahu dari terjangan ombak. Akhirnya mereka berhasil sampai di titik pendaratan, dan langsung bergerak menuju lokasi sasaran.

Setiba di lokasi, unit kopassus ini segera mencari tempat-tempat yang dicurigai sebagai lokasi penimbunan pasokan senjata. Namun hasilnya nihil. Tapi mereka tidak menyerah. Setelah menunggu selama dua hari dua malam, akhirnya mangsa mereka muncul. Dua orang kulit putih muncul dari balik rimbunnya hutan PNG, melintasi posisi pasukan kopassus yag sama sekali tidak mereka rasakan keberadaannya.

Segera kedua orang ini diamankan. Setelah diperiksa dan diinterogasi, keduanya diketahui sebagai agen Australia. Mereka kemudian menunjukkan lokasi tempat helikopter Australia mengedrop pasokan senajata dan amunisi untuk OPM. Sayang, karena persediaan menipis, Kopassus tidak punya waktu untuk menunggu sampai terjadinya pengedropan tersebut.

Kedua bule itu dibawa kembali ke Indonesia. Dan beberapa bulan kemudian diekstradisi ke Australia. Sejak saat itu, Australia tidak berani bertindak macam-macam lagi (mungkin karena malu ketahuan). Mereka juga baru sadar kalau kopassus mampu melakukan operasi jauh di dalam wilayah musuh. Bahkan tidak menutup kemungkinan kopassus bisa beroperasi di pedalaman Australia tanpa terdeteksi. Inilah yang kemudian membuat nama Kopassus sangat disegani oleh tentara Aussie.








sumber : http://www.indoforum.org/showthread.php?t=77584